Author            :  Sunnie

Title                : Sang Pencari

Ratting           : G

Genre              : Family

Main Cast      :

–           Sebastian

Other cast       :

–          David

–          Ulama

 

~ Happy Reading ~

 

Sang mentari terbit begitu cerah di pagi itu, seolah ia terbit dengan senyum yang begitu cerah, namun tidak seperti halnya warga dunia saat ini, mereka terlihat begitu panic dan sibuk, berlalu lalang kesana kemari, terutama Negara Indonesia, Negara yang saat ini tengah menjadi pusat perhatian seluruh dunia,

Bencana tsunami yang terjadi di banda aceh saat ini merupakan tsunami terbesar yang pernah terjadi di seluruh dunia, itulah yang dikatakan seluruh pembawa acara televise maupun radio di dunia.

Sebuah bencana yang telah merenggut begitu banyak jiwa, bangunan-bangunan hancur seketika, rata dengan tanah, namun begitu besar kuasa Sang Maha Besar, hanya satu masjiid yang masih berdiri dengan utuh di tengah kota banda Aceh tersebut, Masjiid Selepasnya tsunami tersebut beribu bantuan dari berbagai Negara datang untuk mengevakuasi korban yang masih bisa terselamatkan

Seorang pemuda yang merupakan korban dari tsunami tersebut mulai berhamburan ke tempat kejadian mencari keluarganya yang mungkin masih ada, baik nyawa maupun raganya, Berhari-hari ia mencari namun tak ada satupun raga keluarganya yang ia temukan, ditelusurinya sebuah pos dimana para korban yang telah ditemukan dari tempat kejadian, namun nihil tak ada satupun raga keluarganya, dihampirinya sebuah pos dimana terdapat beberapa orang yang masih terselamatkan namun tetap saja Nihil tidak ada satu pun yang bisa ia temukan

Sebastian itulah nama pemuda tersebut,

Sebastian terus mencari dan mencari hingga ia bertemu dengan David, sahabat karibnya yang ternyata masih hidup

“Ohh David, kau masih hidup rupanya” Ujar Sebastian sembari memeluk erat David yang baru saja ia temui

“Akupun tidak menyangka bisa bertemu denganmu lagi kawan, ini mukjizat” Ujar David sembari menepuk-nepuk pundak Sebastian, dan kembali berpelukan lagi

.

.

.

“Apa ada yang tersisa kawan?” Tanya David sembari memandangi wajah sahabatnya tersebut, Saat ini mereka tengah berjalan menyusuri beberapa tenda dan duduk di atas batang kayu dibawah pohon besar nan rindang di tengah dinginnya udara malam

“Tidak ada satupun yang tersisa” Jawab Sebastian dengan nada sedih namun sebuah senyuman miris mulai tercetak dengan jelas diwajahnya

“Bagaiman denganmu kawan?” Tanya Sebastian balik

“Aku masih bersyukur meskipun hanya adikku yang tersisa, sedangkan orang tuaku, entahlah kawan, aku sendiri tidak tau dimana mereka berada” Jawab David sedih, didalam nada bicaranya pula tersirat sebuah keputus asaan

Sebastian hanya bisa menepuk nepuk kecil pundak kiri David, seolah memberi kekuatan padanya bahwa ia tidaklah sendiri, masih ada dirinya yang akan selalu menemani David, meskipun ia sendiri tidaklah yakin dengan dirinya sendiri, dan siapa dia

Allahu Akbar… Allahu Akbar

Terdengar jelas sebuah adzan isyak yang mulai berkumandang dengan indahnya

“Lebih baik kita sholat terlebih dahulu kawan, untuk menenangkan hati kita” Ujar David sembari menepuk-nepuk kecil pundak kanan Sebastian

“Kau duluan saja David, nanti aku menyusul” Ujar Sebastian yang hanya dibalas dengan senyuman kecil dari David. Davidpun berjalan pergi menjauh menuju masjiid untuk menjalankan sholat berjamaah

Sebastian yang sedari tadi diam termenung di tempatnya, tidak memperdulikan bunyi bacaan bacaan sholat yang menandakan sholat telah dimulai, ia terus termenung diditu tanpa melakukan apapun, seolah ia sedang berperang dengan pemikirannya sendiri

“Sholat? Untuk apa sholat? Bukankah sholat dilakukan untuk membuktikan bahwa kita bertaqwa kepada Tuhan ( allah )? Sedangkan, apa itu Tuhan? Aku tidak percaya adanya Tuhan” Pikir Sebastian dalam hati sembari tersenyum miris

“Hey…” Panggil David sembari menepuk pundah Sebastian dan duduk disampingnya

“Kau sudah sholat?” Tanya David lembut, namun hanya dijawab dengan gelengen kecil oleh Sebastian

“Kalau begitu lekaslah sholat” Ujar David lembut

“Tidak” Jawab Sebastian singkat namun tegas

“Apa maksudmu? Sholat itu wajib Sebastian” Ujar David tegas

“Buat apa sholat David? Apa yang kau dapat dengan Sholat?” Tanya Sebastian dengan nada marah

“Sholat itu wajib Sebastian, Sholat dilakukan untuk menunjukkan bawa kita bertaqwa kepada Allah SWT” Jawab David tegas

“Tuhan? Apa kau masih mempercayai adanya Tuhan David? Setelah semua yang kita alami? Apakah Tuhan ada disaat kita membutuhkannya? Apakah Tuhan ada disaat kita sendiri seperti saat ini? Aku sekarang sebatang kara David, Apa tuhan mau mengadopsiku atau merawatku? Jawab David” Ujar Sebastian Tegas dan diliputi oleh emosi

“Dan apa Tuhan ada disaat kita merasa kehilangan seperti saat ini?” Tanya Sebastian sedih, suaranya terdengar begitu serak, seolah begitu banyak penderitaan yang ia derita saat ini

“Ini adalah bukti bahwa Allah sayang pada kita Sebastian, bukan karena Allah tidak ada untuk kita, Dia memberi kita cobaan karena dia sayang pada kita, Ia ingin mengetes seberapa besar kita bisa bersabar dan bertaubat dalam menghadapi cobaan yang ia berikan”

“Bukankah Tuhan tidak akan memberikan cobaan diluar batas kemampuan umatnya? Lalu kenapa ia mengambil seluruh keluargaku? ayah, ibu, adik, dan kakakku Ia ambil, Dia mengambil semua yang aku miliki David, kenapa Ia tidak mengambil aku sekalian huh? Itu yang katakan sayang?” Tanya Sebastian penuh dengan luapan emosi

“Sebastian, seharusnya kau bersyukur karena Allah masih memberimu hidup. Oleh ka…”

“Aku tidak pernah bersyukur meskipun Tuhan masih memberiku hidup, karena itu bukanlah suatu hal yang pantas untuk disyukuri” Ujar Sebastian sembari menundukkan kepalanya dan menatap hamparan tanah dihadapannya dengan pandangan meneerawang

“Istigfar Sebastian, Cepatlah engkau bertaubat, dan percayalah bahwa Allah itu ada, percayalah bahwa Allah adalah Tuhanmu” Ujar David sembari menepuk nepuk pundak Sebastian dan menatapnya dengan pandangan sedih nan kasihan

David tahu, Sebenarnya Sebastian adalah orang yang baik, dulu sebelum bencana ini terjadi, Sebastian adalah orang yang baik, ia selalu mengerjakan sholat tepat waktu, membaca kitab suci  al-qur’an iapun lakukan setiap hari, tidak lupa pula untuk membantu orang lain yang sedang membutuhkan bantuannya,

Namun karena bencana ini, semua yang Sebastian miliki hilang, pergi, dan menjauh. Bahkan kepercayaannya akan kehadiran Allahpun entah kenapa hilang begitu saja

“David, aku harus pergi, aku ingin mencari Tuhanku sendiri, aku ingin membuktikan apakah Tuhan memang ada” Itulah kata-kata terakhir yang Sebastian ucapkan, sebelum pergi menjauh meninggalkan David

***

Sang mentari perlahan demi perlahan terus naik menghampiri ujung dunia, berusaha bertemu dengan sang rembulan yang entah mengapa tak pernah bisa ia temui. Sebastian yang telah siap dengan tas besar dipunggungnya bergegas pergi. Meski tanpa tujuan dan arah. David yang melihat kesiapan Sebastian, berlari kecil menghampiri sahabat karibnya tersebut

“Sebastian” Teriak David yang tengah berlari-lari kecil menghampiri Sebastian

“Jika kau kesini, hanya untuk menghalangi pergi itu percuma saja, keputusanku sudah bulat David” Ujar Sebastian datar dan tenang namun tersirat ketajaman dari nada bicaranya, Sedangkan David hanya menjawab dengan sebuah gelengan kecil dan senyuman tipis

“Aku berfikir untuk apa aku harus menghalangimu, sedangkan kau hanya ingin mengetahui sebuah kebenaran, mencari tahu siapa Tuhanmu yang sebenarnya, yang bisa engkau percayai, dan engkau akui keberadaannya, aku kesini hanya ingin  memberikan ini kawan, semoga ini bisa membantumu dan semoga pula jalanmu selalu diridhoi oleh Allah SWT” Ujar David sembari memberikan beberapa lembar uang kertas kepada Sebastian

“Terima Kasih David, ini benar benar akan membantuku” Jawab Sebastian sebelum ia pergi menjauh meninggalkan David dan kampung halamannya sendiri

“Hati-hati kawan, Do’aku akan selalu menyertaimu” Ujar David pelan (terlebih) pada dirinya sendiri, seolah berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan selalu mendo’akan Sebastian dimanapun ia berada

***

Sang mentari seolah tak pernah lelah menyinari indahnya dunia, cahayanya begitu cerah hingga membuat penghuninya kewalahan akan panas sinarnya, namun tidak sama halnya dengan Sebastian, tekadnya terlalu bulat untuk menghancurkan kepercayaan dirinya selama ini

Sebastian melangkahkan kakinya menuruni sebuah bus antar provinsi yang ia tumpangi dari bandara, Kakinya terus berjalan menyusuri Kota Jakarta yang masih begitu asing di matanya, Berjalan terus tanpa arah, karena ia sendiri tak tau akan harus kemana, hingga ia berhenti di depan sebuah masjiid umum, dihempaskan tubuhnya di tangga depan masjjid tersebut, diambilnya sebuah air minum botolan yang telah ia bawa dari kampung halamannya

Pendengarannya terlalu tajam untuk mendengar beberapa kata yang diucapkan oleh seorang ustad didalam masjiid tersebut

“Kita sebagai makhluk ciptaan Allah SWT diwajibkan untuk percaya akan adanya Allah, rasul dan malaikatnya” Ujar Ustad tersebut yang mampu ditangkap oleh pendengaran Sebastian

“Ustad, apakah Sholat adalah salah satu bukti kita percaya akan adanya Allah?” Tanya salah satu murid mengaji tersebut

“Percaya atau iman, maksudnya adalah Diyakini di dalam hati, diucapkan dengan lisan, dan diamalkan dalam bentuk perbuatan, Sedangkan Sholat adalah salah satu contoh dari mengamalkan dalam bentuk perbuatan, jadi Sholat termasuk dalam bentuk kepercayaan kita akan adanya Allah SWT” Jawab Ustad tersebut

“Aku pernah mendengar jika Allah adalah maha pencipta, Apa buktinya?”  Tanya salah satu murid perempuan

“Alam semesta, dan Makhluk hidup tidaklah tercipta dengan sendirinya bukan? Mereka diciptakan dan dipelihara oleh sang Al-Kholiq, yaitu Allah SWT, coba buka QS. Ali’Imroon (3) Ayat 190-191 yang artinya ‘Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal Yaitu orang orang yang mengingat Allah SWT sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan lanjut dan bumi (seraya berkata), “Ya Roob kami, tiadalah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, maka periharalah kami dari siksa neraka’, Mari kita baca bersama-sama” Ujar Ustad tersebut

“A’udzubillahi minasysyaitan nir Rajiim” itulah kata-kata terakhir yang Sebastian dengarkan sebelum ia pergi meninggalkan masjiid tersebut

Dalam perjalanannya yang entah tanpa arah, Sebastian terus menerus merenungkan makna dari arti surah tersebut, sebuah surah yang sepastinya ada makna didalamnya. Ia terus berjalan menyusuri Kota Jakarta yang sekarang salih berganti malam, sebuah toko buku yang  tengah ingin ditutup seketika menghentikan langkah Sebastian, pandangannya tanpa ssengaja melihat sebuah kita suci Al-Qur’an di dalam toko tersebut, dihentikannya seorang pria paruh baya yang tengah ingin menutup toko tersebut

“Dapatkah saya membeli Al-Qur’an tersebut tuan?” Tanya Sebastian tanpa pikir panjang, ia sendiri bingung mengapa ia berkata seperti itu, tiba-tiba saja hatinya mendorongnya untuk membeli Al-Qur’an tersebut

“Tapi kami sudah tutup tuan, mungkin lain kali saja anda kesini lagi” Jawab pria tersebut sembari meneruskan kegiatannya untuk menutup toko buku tersebut

“ Tunggu tuan, saya akan membayarnya, saya mempunyai uang, kumohon” Ujar Sebastian sembari mengeluarkan beberapa uang kertas yang tadi diberikan oleh David, Sedangkan pria paruh baya tersebut saat ini terlihat tengah berfikir,

“Baiklah, cepat masuk” Ujar pria paruh baya tersebut sembari membuka kiosnya yang tadi tengah tertutup setengah, sedangkan Sebastian hanya tersenyum lega dan menganggukkan kepalanya kecil

Sebastian dan pria paruh baya tersebut masuk ke dalam kios tersebut, pria paruh baya tersebut menyalakan sebuah lampu yang tadi sempat ia matikan, sedangkan Sebastian dengan cepat mengambil sebuah Al-Qur’an yang tadi sempat tertangkap oleh kornea matanya

“Berapa harga Al-Qur’an ini?” Tanya Sebastian sembari menghampiri pria paruh baya tadi yang sekarang tengah berada di meja kasir

“Rp.35.000,- “ Jawab Pria paruh baya tersebut, dengan cepat Sebastian mengeluarkan beberapa lembar uang kertas dari saku celana yang ia kenakan dan memberikannya kepala pria paruh baya tersebut

“Permisi” Ujar Sebastian kepada pria tersebut sebelum meninggalkan toko kecil yang berada di pinggir jalan tersebut

Malam terus berjalan seiring bertambahnya waktu, Kini, hari telah menunjukkan dirinya diangka 9 di malam hari, Sebastian yang selama ini selalu bermalam di setiap masjiid yang ia temui kembali memberingkan tubuhnya diatas sebuah sajadah panjang yang selalu digelar di dalam masjiid

***

Malam silih berganti menjadi pagi, sang mentari seolah tak pernah bosan menyinari dunia setiap saat, Sebastian yang sedari tadi telah terbangun  dari tidurnya, kini tengah bersiap-siap melanjutkan perjalanannya entah kemana… Ia hanya terus berjalan dan berjalan tanpa tujuan dan arah

Kini Sebastian tengah duduk merenung di bawah pohon di pinggir danau, dikeluarkannya sebuah kitab suci Al-Qur’an yang kemarin telah ia beli dari sebuah toko kecil. Dibukanya Al-Qur’an tersebut dan dicarinya sebuah dalil naqli dari Surah Ali Imran ayat 190-191 … dibacanya Dalil Naqli tersebut dan dihayatinya beserta Arti dari Dalil tersebut

Suasana danau saat itu sangatlah sepi, Sebastian lebih memilih untuk duduk disuatu tempat dimana orang sulit mengetahuinya namun nyaman. Seorang ulama yang tengah melewati Danau tersebut tanpa sengaja melihat Sebastian yang tengah membuka Al-Qur’an, dihampirinya Sebastian dengan senyum yang terlukis di wajah tuanya saat ini

Dipandanginya Sebastian yang tengah duduk dibawahnya dengan Al-Qur’an ditangannya, Sebastian yang menyadari kehadiran seseorang disampingnya mendongakkan kepalanya seolah ingin mengetahui siapa orang tersebut. Sebastian yang langsung mengetahui bahwa orang tersebut adalah ulama dari pakaiannya yang putih menjulang kebawah dengan peci yang bersarang di kepalanya, langsung berdiri menyalami ulama tersebut

“Kalau boleh tau, Surah apa yang sedang kau baca nak?” Tanya ulama tersebut sembari ikut duduk di damping Sebastian

“Aku sedang tidak membaca surah, Aku hanya ingin menghayati arti dari dalil naqli ini” Ujar Sebastian sembari melihat kearah Al-Qur’an yang tengah berada digenggamannya dengan pandangan intens

“Dalil Naqli?” Tanya Ulama tersebut dengan pandangan ingin tahu

“Ya, Dalil Naqli dari surah Ali Imran ayat 190-191, Bukankah arti dari ayat tersebut menjelaskan bahwa Allah adalah maha pencipta?” Tanya Sebastian kepada ulama tersebut

“Aku mempunyai sebuah cerita tentang Dalil Naqli tersebut, apa kau ingin mendengarnya?” Tanya ulama tersebut santun, sedangkan Sebastian hanya menjawabnya dengan anggukan

“Dulu, At Tabari dari Ibnu Hatim meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas ra, bahwa orang-orang Quraisy datang menemui kaum Yahudi dan bertanya “Bukti-bukti kebenaran apa yang dibawa Musa kepadamu?” Kemudian ia menjawab “Tongkat dan tangannya yang putih bersinar bagi yang melihatnya“. Kemudian  mereka pergi menjauh untuk datang menemui kaum Nasrani dan bertanya “Bukti-bukti kebenaran apa yang dibawa Isa kepadamu “. Kemudian ia menjawab “Yesus menyembuhkan mata yang buta sejak ia lahir dan penyakit sopak serta ia dapat pula menghidupkan orang yang sudah mati“. Terakhir mereka datang menemui Rasulullah saw dan berkata “Mintalah kepada Tuhanmu supaya bukit Safa dapat berubah menjadi emas untuk kami“. Dan berdoalah Nabi Muhammad saw kepada Allah sehingga turunlah ayat tersebut” Ujar Ulama tersebut,

“Diriwayatkan dari ‘Aisyah ra, bahwa Rasulullah saw berkata “Wahai ‘Aisyah saya pada malam ini akan beribadah kepada Allah SWT” Kemudian Aisyah menjawab “Sesungguhnya saya sangat senang jika Rasulullah berada di samping saya. Tapi baiklah! Saya tidak keberatan.” Kemudian Rasulullah bangun dari tempat tidurnya untuk mengambil air wudlu, setelah itu ia menjalankan sholat sunah yang tidak jauh dari tempatnya mengambil air wudlu. Ketika shalat ia menangis, ketika merenungkan ayat Al-Quran yang tengah dibacanya. Setelah shalat, Ia duduk memuji Allah SWT dan kembali menangis pelan. Diatangkatnya kedua tangannya untuk berdo’a dan lagi-lagi ia menangis kembali. Ketika Bilal datang untuk azan subuh, ia melihat Nabi Muhammad saw menangis , kemudian ia bertanya “Wahai Rasulullah! Mengapa Rasulullah menangis?, Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik yang terdahulu maupun yang akan datang“. Kemudian Nabi menjawab: “Apakah saya ini bukanlah seorang hamba yang layak bersyukur kepada Allah SWT? Dan bagaimana mungkin saya tidak menangis? Karena pada malam ini Allah SWT telah menurunkan ayat kepadaku. Kemudian ia berkata “Alangkah rugi dan celakalah orang-orang yang membaca ini dan tidak memikir dan merenungkan isi artinya Lanjut Ulama tersebut

“Apakah sekarang kau mengerti arti dari surah tersebut nak?” Tanya ulama tersebut pada Sebastian

“Apakah itu artinya bahwa Allah benar benar ada?” Tanya Sebastian kepada ulama tersebut

“Apa kau masih meragukan kehadirannya nak? Allah itu ada, Ia bagaikan seperti angin, tidak bisa dilihat, namun dirasakan, seberapa jauh kau mencariNnya, kau tidak akan pernah menemukanNya, kau hanya perlu merasakan kediranNya, karena Ia selalu ada di sekitarmu, mengawasimu, dan memperhatikanmu”

“Tapi kenapa Ia mengambil seluruh keluargaku?” Tanya Sebastian

“Itu karena Ia terlalu menyayangi keluargamu, sehingga Ia lebih cepat mengambil mereka” Jawab Ulama tersebut

“Apa itu berarti ia tidak menyayangiku? Kenapa ia hanya mengambil  keluargaku? Kenapa tidak sekalian aku saja” Tanya Sebastian diliputi kesedihan dan kemarahan

“Astagfirullah, Allah itu mencintai hambanya yang bertaqwa, mungkin ia masih mengizinkanmu hidup karena ia ingin kau terus bertaqwa padanya” Jawab Ulama tersebut

“Kurang taqwa apa aku? Setiap hari aku sholat, mengaji, menolong, bahkan membatu orang yang membutuhkan, dosa apa yang pernah aku lakukan PadaNya?” Tanya Sebastian oenuh kemarahan

“Orang bertaqwa bukanlah orang yang mengakui ketaqwaannya, Nabi Muhammad bahkan telah mencontohkan kepada kita, ia terus menerus memuji dan memohon maaf kepada Allah SWT meskipun dosanya telah dimaafkan, Kau hanya perlu percaya, Jika kau tidak percaya niscaya Allah akan membuka jalan yang terbaik untukmu nak” Ujar Ulama tersebut sembari menepuk-nepuk pundak Sebastian

“Aku hanya ingin bukti bahwa Allah benar-benar ada” Ujar Sebastian pelan

“Bukti apalagi yang kau minta? Kau dapat selamat dari bencana tsunami tersebut, bukankah itu termasuk bukti atas kebesaran Allah? Jika kau masih belum percaya, Mintalah kepada Allah dengan tulus, Mintalah bukti sekali lagi jika Ia benar-benar ada,” Ujar Ulama tersebut sebelum pergi meninggalkan Sebastian sendirian, termenung dalam pemikirannya sendiri

***

Sebastian terlalu frustasi terhadap pemikirannya sendiri, Kini siang telah berganti malam, ditengah gelapnya langit, Sebastian berdiri mematung di atas jembatan gantung, Ia berdiri seorang diri disana, tidak ada satu orangpun yang berlalu lalang melewatinya, karena jam telah menunjukkan angka 12 di malam hari itu

“AKU HANYA INGIN SEBUAH BUKTI AKAN KEHADIRANMU TUHAN!!! BERIKAN AKU BUKTI BAHWA KAU BENAR BENAR ADA!!” Teriak Sebastian dari atas jembatan penuh dengan kefrustasian

Ditengah kilatan petir yang mulai menghiasi awan gelap deruan suara gemuruh di langit, membuat suasana semakin menegangkan. Dengan frustasi Sebastian meloncat dari jembatan, di dalam pemikirannya, jika ia masih hidup berarti Allah benar-benarlah ada, namun jika ia mati maka kepercayaannya akan benar benar mati bersama raga dan jiwanya

***

Keesokan harinya Seorang wanita remaja menemukan tubuh Sebastian di kali dengan posisi tangan terlentang dan kepala dibawah, Dipanggilnya warga-warga sekitar yang berlalu lalang untuk membantunya mengambil raga Sebastian, entah Sebastian masih hidup atau tidak, tidak ada yang tau

***

Sebastian berjalan dengan tongkat menaiki sebuah bus antar provinsi yang mengarahkannya pada kampung halamannya, benar Sebastian masih hidup, tapi sayang karena aksinya tersebut ia harus kehilangan sebelah kakinya yang kiri, namun kini ia bahagia… karena sekarang ia telah menemukan Tuhannya, Benar kata ulama itu, jika ia meminta dengan tulus dari hati, maka Allah akan menunjukkannya

Tuhannya, tuhan yang selama ini telah berada disampingnya, Tuhan yang selalu mengawasinya, yaitu Allah SWT. Setibanya Sebastian di kampung halamannya, Ia bertemu dengan David yang menadangnya dengan bahagia namun terkejut akan kondisi Sebastian, namun itu bukanlah suatu penghalang .. dengan rinci ia menjelaskan semuanya kepada David tentang perjalanannya di Jakarta

Kini Sebastian telah hidup bahagia dengan kepercayaannya dan Sahabat karibnya,

Satu hal yang ia tahu , Ia hanya harus percaya

END